MODEL PEMBELAJARAN STM

1. Pendahuluan
Keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran sains dipengaruhi oleh banyak faktor. Satu dari sekian banyak faktor tersebut yaitu: menentukan atau memilih pendekatan pembelajaran. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan salah satu pendekatan yang sangat penting dikenal dan nantinya dapat diterapkan baik dalam kegiatan pembelajaran Sains maupun dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi saat ini.

Belakangan ini, banyak guru Sekolah Dasar belum dapat mengimplementasikan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dengan baik dalam kegiatan pembelajaran Sains. Misalnya saja, guru belum memperhatikan manfaat yang didapat siswa setelah pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, konsep-konsep yang telah didapat saat pembelajaran pun tidak dapat diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Tentu kenyataan ini mengakibatkan tujuan pembelajaran tidak akan dapat tercapai secara maksimal.

Mengingat manfaat yang diperoleh dari penerapan/implementasi pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) sangatlah besar baik oleh siswa dan guru, maka guru perlu pengimplementasi Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran Sains.



2. Pengertian Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM)

Sains mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu, sebagai sekumpulan pengetahuan, dan sebagai metode-metode. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep-konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Sains juga merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Sains sebagai produk meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Sain sebagai proses meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi.

Teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri.

Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains, sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam, namun juga untuk aktivitas penemuan (invention), misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4).

Masyarakat adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Masyarakat juga merupakan sehimpunan orang yang hidup suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Sedangkan, social adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Jadi dapat dikatakan bahwa, masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu.

Sains Teknologi Masyarakat adalah merupakan kecendrungan baru di dalam pendidikan Sains, yang mula-mula timbul di Inggris dan Amerika Serikat yang kini meluas keberbagai negara termasuk Indonesia. Sains Teknologi Masyarakat juga diartikan sebagai pembelajaran sains dan teknologi dalam konteks penglaman manusia. Jadi Sains -Teknologi -Masyarakat atau STM adalah istilah yang diberikan kepada usha mutakhir untuk menyajikin konteks dunia nyata dalam pendidikan Sains dan pendalaman Sains.

Definisi Sains Teknologi Masyarakat atau “Science-Teknology-Society” menurut Nasional Science Teachers Associations (NSTA) yaitu persatuan guru- guru IPA di Amerika Serikat sebagai berikut : Sains Teknologi Masyarakat adalah pembelajaran sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Jadi Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) adalah istilah yang diberikan kepada usaha muktahir untuk menyajikan konteks dunia nyata dalam pendidikan Sains dan pendalaman Sains. (Tim Penyusun, 2006:47) dan pendekatan STM juga dapat diartikan pembelajaran yang dirancang dengan menggunakan isu- isu sosial dan teknologi yang ada di lingkungan siswa sebagai pemicu dalam pembelajaran suatu konsep (Sudarsana & Suardana, 2002:7) Jadi pendekatan STM adalah pembelajaran yang menyangkut pengalaman manusia,isu-isu sosial dan teknologi masyarakat.

Dalam pendekatan STM murid-murid harus diikut sertakan dalam penentuan tujuan, prosedur perencanaan, dan dalam usaha mendapatkan informasi, serta dalam mengevalusi. Yang menjadi tujuan utama didalam pendekatan STM adalah murid­murid setelah lulus sekolah menjadi anggota, masyarakat atau warga negara yang mampu untuk mengambil keputusan-kepuusan tentang maslah-masalah di dalam mayarakat dan mengambil tindakan sebagai akibat menekanklan pentingnya Sains dan teknologi, sebab dalam mayarakat modern keterkaitan antara sains - teknologi masyarakat sangat erat.

3. Karakteristik Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM)

Yager (1992), mendefinisikan STM yaitu mencakup tujuan kurikulum, assesmen dan khususnya mengenai pengajaran. Yager dan kawan-kawan mengembangkan pendekatan STM, model yang dikembangkan Yager dan kawan-kawan itu dikenal dengan “Model Chautauqua Iowa” yang dilaksanakan sejak tahun 1983 yang dikoordinasi oleh NSTA. Pada tahun 1983-1986 Yager dan kawan-kawannya bekerja sama dengan 30-50 guru setiap tahunnya. Kerjasama itu betujuan untuk membantu guru-guru dalam mengajar untuk mencapai lima tujuan utama. Tujuan-tujuan dikarakteristikkan sebagai domain, yaitu meliputi domain konsep, proses, aplikasi, kreativitas, dan sikap. ( Sutarno,2008:9.14)

a. Domain konsep

Domain konsep ini memfokuskan pada muatan sains, tujuan-tujuan sains untuk mengelompokkan alam yang teramati ke dalam unit-unit yang teratur untuk studi dan penjelasan hubungan-hubungan fisika dan biologi dari pengajaran sains yang melibatkan siswa belajar konsep-konsep utama dari sains. Domain konsep meliputi fakta-fakta, informasi, hukum-hukum, prinsip-prinsip, penjelasan-penjelasan keberadaan sesuatu dan teori yang digunakan oleh sains.

b. Domain Proses

Proses-proses sains berhubungan dengan bagaimana saintis berpikir dan bekerja, yaitu menggambarkan dimensi sains. Proses-proses sains telah diidentifikasikan oleh “The American Association for the Advancement of Science” (AAAS) dalam pengembangan “Science a Process Approach (1963)”, yaitu ada 15 keterampilan proses yang meliputi :

a. mengobservasi,

b. menggunakan ruang/waktu,

c. mengklasifikasi,

d. mengelompokkan dan mengorganisasi,

e. menggunakan bilangan,

f. mengkuantifikasi,

g. mengukur,

h. mengkomunikasikan,

i. menginferensi,

j. memprediksikan,

k. mengendalikan dan mengidentifikasi variabel,

l. menginterpretasikan data,

m. merumuskan hipotesis,

n. memberikan definisi secara operasional,

o. melaksanakan eksperimen.

c. Domain Aplikasi

Domain ini meliputi mengaplikasikan konsep-konsep dan keterampilan dalam memecahkan masalah sehari-hari, memahami prinsip-prinsip ilmiah dan prinsip-prinsip teknologi yang terdapat dalam rumah tangga, menggunakan proses-proses ilmiah dalam memecahkan masalah yang terjadi menggunakan proses-proses ilmiah dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, memahami dan menilai laporan media masa dalam kehidupan sehari-hari, memahami dan menilai laporan media masa mengenal perkembangan pengetahuan, mengambil keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pribadi, gii dan gaya hidup yang didasari berhubungan dengan kesehatan pribadi, gii, dan gaya hidup yang didasari oleh pengetahuan konsep-konsep ilmiah daripada emosi, mengintegrasikan sains dengan subjek-subjek lain, mengambil tindakan khusus yang dirancang untuk memecahkan masalah dan atau memberi kontribusi untuk pemecahan masalah yang dihadapi secara lokal, nasional, maupun internasional dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.

d. Domain Kreativitas

Kemampuan manusia yang terpenting dalam domain ini diantaranya meliputi visualisasi, menghasilkan gambaran mental, menggabungkan objek-objek dan ide-ide dalam cara-cara baru, memecahkan masalah dan teka-teki, memprediksi konsekuensi-konsekuensi yang mungkin, menyarankan alasan-alasan yang mungkin, mendesain alat atau mesin, dan menghasilkan ide-ide yang tidak biasa.

e. Domain Sikap

Domain sikap meliputi pengembangan sikap-sikap terhadap sains pada umumnya, kelas sains, kegunaan belajar sains, dan untuk guru terbentuknya pengembangan sikap-sikap positif terhadap diri sendiri (sikap dapat mengerjakan sesuatu), eksplorasi emosi manusia, mengembangkan kepekaan dan rasa hormat terhadap perasaan-perasaan orang lain, mengekspresikan perasaan dengan cara-cara yang konstruktif, mengambil keputusan mengenai nilai-nilai perorangan, mengambil keputusan mengenai isu-isu lingkungan sosial dan mengeksplorasi argumen dalam sudut pandang yang berbeda mengenai isu-isu yang ada.

4. Tujuan dan Komponen-Komponen Pendekatan Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)

Menurut Yager tujuan pembelajaran STM adalah sebagai berikut.

a. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mengkontraskan sains dan teknologi serta menghargai bagaimana sains dan teknologi memberikan kontribusi pada pengetahuan dan pengaruh baru.

b. Memberikan contoh-contoh dari masa lalu dan sekarang mengenai perubahan-perubahan yang sangat besar dalam bidang sains dan teknologi yang dibawa masyarakat, pertambahan ekonomi, dan proses-proses politik.

c. Memberikan/menawarkan pandangan global pada hubungan sains dan teknologi pada masyarakat, menunjukkan dampaknya pada pengembangan bangsa dan ekologi bumi.

Pengajaran IPA dengan menggunakan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) hendaknya mengandung komponen-komponen sebagai berikut.

a. Strategi-strategi yang berada untuk memberikan pemahaman yang nyata mengenai pola-pola penalaran dan berfikir dari teman sebayanya, orang dewasa, dan para ahli.

b. Keterampilan-keterampilan dalam menguji validitas argumen dan contoh-contoh yang tampaknya terdengar seperti penalaran ilmiah yang membawa pda kesimpulan yang keliru.

c. Memotivasi siswa untuk mengeksplorasi emosi dan nilai-nilai dalam hubungan data dengan bukti-bukti khusus.

d. Penggunaan studi lapangan, pembicara tamu, media informasi, film dan kegiatan-kegiatan siswa, debat, bermain peran dan simulasi.

Beberapa alasan pentingnya Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat Digunakan Sebagai Salah Satu Pendekatan dalam Pengajaran IPA di Sekolah Dasar, yaitu sebagai berikut.

a. Untuk dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, sehingga siswa akan dapat terlibat secara aktif mengidentifikasi isu – isu sosial dan teknologi yang terdapat di masyarakat.

b. Untuk memecahkan isu – isu sosial.

c. Untuk membuat sains dapat dipahami oleh semua siswa.

d. Pengajaran sains dengan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat akan mendekatkan siswa kepada obyek yang dibahas.

e. Dapat memberikan pengetahuan dan pengertian kepada generasi muda yang mereka butuhkan dan memahami masalah-masalah sosial yang muncul sebagai akibat sains dan teknologi.

f. Pengajaran sains dengan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat merupakan suatu konteks pengembangan pribadi dan sosial.

g. Dapat memberikan kepercayaan diri kepada generasi muda dan untuk berperan serta dalam teknologi.

Banyak manfaat yang diperoleh melalui pendekatan STM, baik menurut pandangan murid maupun guru. Pendekatan STM efektif untuk penguasaan konsep dalam diri murid. Dalam ranah penerapan/aplikasi murid-­murid yang diberikan pendekatan STM menunjukan kemampuan menerapkan konsep-konsep sains (IPA) dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ranah sikap, hasil penelitian menunjukan bahwa murid-murid yang diberikan pendekatan STM mempunyai sikap yang lebih positif terhadap pelajaran sains. Yang lebih penting lagio adalah penemuan bahwa sikap murid putri terhadap sains dan teknologi meningkat secara dramatis di dalam kelas STM. Diharapkan peserta didik memiliki pemikiran yang luas tentang sains teknologi masyaralat yang dapat diterapkan di masyarakat luas. Misalnya di dalam menerima atau menangkap informasi peserta didik tidak langsung menerima informasi tersebut tetapi peserta didik mampu menganalisis baik atau buruknya informasi yang diperoleh. Selain memiliki manfaat sains teknologi masyarakat juga memiliki kekurangan dalam pembelajaran di SD. Hal ini dapat dilihat pada guru yang belum menguasai sains teknologi sehingga guru susat untuk mentransfer materi pembelajaran dengan sains teknologi masyarakat selain itu peserta didik khusunya siswa yang berada di kelas rendah belum mampu mengoperasikan sains teknologi yang sudah ada.

5. IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT DALAM PEMBELAJARAN

Sebagaimana telah dikemukakan pada uraian tentang pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat, bahwa (STM) didefinisikan sebagai belajar dan mengajar mengenai sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Bila STM digunakan sebagai pendekatan mengajar sains berarti berbicara mengenai cara pencapaian tujuan pengajaran sains dalam konteks di atas.

1) Siswa mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di daerahnya dan dampaknya.

2) Dalam memecahkan masalah tersebut siswa dapat menggunakan sumber-sumber setempat (nara sumber dan bahan-bahan) untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah.

3) Keterlibatan siswa secara aktif dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah nyata dalam hidupnya.

4) Perluasan untuk terjadinya belajar melebihi periode, kelas dan sekolah.

5) Memusatkan pada pengaruh sains dan teknologi kepada individu siswa.

6) Pemandangan mengenai sains sebagai bahan lebih dari sekedar yang hanya berisi konsep dan untuk menyelesaikan ujian.

7) Penekanan pada keterampilan proses sains, agar dapat digunakan oleh siswa dalam mencari solusi terhadap masalahnya.

8) Penekanan pada kesadaran mengenai karier, khususnya karier yang berhubungan dengan sains dan teknologi.

9) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan dalam bermasyarakat sebagai usaha untuk memecahkan kembali masalah-masalah yang didefinisikannya.

10) Menentukan proses sains dan teknologi yang mempengaruhi masa depan.

11) Proses perwujudan otonomi setiap individu dalam proses belajar.

Dalam penggunaan pendekatan STM, Yager menyarankan hendaknya dalam belajar menggunakan strategi konsturktivisme. Yager mengorganisasikan strategi konstruktivisme dalam pengajaran sains dalam mengorganisasikan strategi konstruktivisme dalam pengajaran sains dalam STM ke dalam 4 tahap, yaitu tahap invasi, tahap eksplorasi, tahap penjelasan dan solusi, dan tahap pengambilan tindakan.

Pada tahap pertama (invasi), siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaan-pertanyana problematis tentang fenomena yang sering ditemui sehari-hari dengan mengkaitkan konsep-konsep yang akan dibahas. Siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasi pemahamannya tentang konsep itu.

Pada tahap kedua (eksplorasi), siswa diberi kesempatan untuk penyelidikan dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, penginteprestasian data, dalam suatu kegiatan yang telah dirancang guru. Secara berkelompok/individu siswa melakukan kegiatan dan diskusi. Secara keseluruhan, tahap ini akan memenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena sekelilingnya.

Tahap ketiga (penjelasan dan soslusi), saat siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan guru, maka siswa dapat menyampaikan gagasan, membuat model, membuat penjelasan baru, membuat solusi, memadukan solusinya dengan teori dari buku, membuat rangkuman dan kesimpulan. Siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari. Hal ini menjadikan siswa tidak ragu-ragu tentang konsepsinya.

Pada tahap keempat (pengambilan tindakan), siswa dapat membuat keputusan, menggunakan pengetahuan dan keterampilan, berbagai informasi dan gagasan, mengajukan pertanyaan lanjutan, mengajukan saran baik bagi individu maupun masyarakat yang berhubungan dengan pemecahan masalah.

Dalam pembelajaran dengan pendekatan STM ini banyak metode mengajar yang dapat digunakan guru. Metode yang dapat digunakan misalnya diskusi, bermain peran, studi kasus, eksperimen, survey dan studi lapangan. Penggunaan metode-metode tersebut menekankan pada keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Untuk mengetahui keberhasilan siswa dengan pendekatan STM tetap diadakan pengujian dan penilaian terhadap siswa. Mungkin pengujian hasil belajar siswa agak sulit pelaksanaannya karena meliputi banyak aspek dan bahkan menyangkut beberapa bidang studi baik sains maupun non-sains.

Langkah yang perlu dilakukan dalam penilaian siswa adalah merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus. Kemudian merumuskan kelebihan-kelebihan yang akan diperoleh siswa setelah mempelajari suatu topik dalam pendekatan STM itu. Perumusan tujuan hendaknya meliputi 5 domain (konsep, proses, aplikasi, kreativitas, dan sikap).

Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis, atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata.

Literasi sains (scientific literasi), dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Literasi teknologi, dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi, radar akan efek basil teknologi, dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alas secara aman, tepat, efesien dan efektif. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia), dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains, mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar, mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif membuat produk teknologi sederhana, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai.

Krakteristik individu yang memiliki literasi ilmiah adalah sebagai berikut:

a) bersikap positif terhadap sains,

b) mampu menggunakan proses sains,

c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset,

d) memiliki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains, serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat,

e) memiliki pengertian hubungan antara sains, teknologi, masyarakat dan nilai-nilai manusia,

f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains.

Adapun individu yang literat teknologi menurut M.J. Dyrenftirth (dalam. Poedjiadi, 1994: 34), memiliki karakteristik:

a) tahu penggunaan dan pemeliharaan-produk tehnologi,

b) sadar tentang proses dan prinsip tehnologi,

c) sadar tentang akibat tehnologi terhadap masyarakat,

d) mampu mengevaluasi proses dan produk tenhnologi,

e) mampu membuat hasl tehnologi alternative yang sedernaha.

Pokok Bahasan Air Kelas VI

Buku Teks Konsep-konsep Isu STM

Pencemaran Air Tanah


Gambar 2.1 Contoh Pembelajaran Sains dengan Pendekatan STM

Contoh Pembelajaran Sains dengan Pembelajaran STM dapat dilihat seperti pada Gambar 2.1.

Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains, teknologi, dan masyarakat secara terintegrasi. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains, teknologi dan masyarakat, berpengaruh satu sama lain, serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam masyarakat, dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya.

6. Penutup

Pendekatan sains dan teknologi ( STM ) adalah pembelajaran yang menyangkut pengalaman manusia, isu-isu sosial dan teknologi masyarakat.

Adapun karakteristik pendekatan STM menurut Yager (1992) yang meliputi domain yaitu : domain konsep, proses, aplikasi, kreativitas, dan sikap. Menurut Yager tujuan pembelajaran STM adalah sebagai berikut.

a) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mengkontraskan sains dan teknologi serta menghargai bagaimana sains dan teknologi memberikan kontribusi pada pengetahuan dan pengaruh baru.

b) Memberikan contoh-contoh dari masa lalu dan sekarang mengenai perubahan-perubahan yang sangat besar dalam bidang sains dan teknologi yang dibawa masyarakat, pertambahan ekonomi, dan proses-proses politik.

c) Memberikan/menawarkan pandangan global pada hubungan sains dan teknologi pada masyarakat, menunjukkan dampaknya pada pengembangan bangsa dan ekologi bumi.

Pengajaran IPA dengan menggunakan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) hendaknya mengandung komponen-komponen sebagai berikut.

a) Strategi-strategi yang berada untuk memberikan pemahaman yang nyata mengenai pola-pola penalaran dan berfikir dari teman sebayanya, orang dewasa, dan para ahli.

b) Keterampilan-keterampilan dalam menguji validitas argumen dan contoh-contoh yang tampaknya terdengar seperti penalaran ilmiah yang membawa pada kesimpulan yang keliru.

c) Memotivasi siswa untuk mengeksplorasi emosi dan nilai-nilai dalam hubungan data dengan bukti-bukti khusus.

d) Penggunaan studi lapangan, pembicara tamu, media informasi, film dan kegiatan-kegiatan siswa, debat, bermain peran dan simulasi.

Pentingnya Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam pengajaran IPA di Sekolah Dasar yaitu dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, sehingga siswa akan dapat terlibat secara aktif mengidentifikasi isu – isu sosial dan teknologi yang terdapat di masyarakat.

Implementasi pendekatan STM dalam pembelajaran Sains yaitu guru mampu memecakan masalah masalah siswa yang ada dalam pembelajaran dan memberikan waktu yang cukup untuk menemukan ide – ide dengan menggunakan pola berpikir, peserta didik dapat menghubungkan yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari. Dalam upaya menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran siswa akan tanggung jawab atas pembelajaran dirinya maka dalam interaksi pembelajaran guru hendaknya mengambil posisi sebagai fasilitator atau mediator pembelajaran dan bukan sebagai otoritas pengetahuan.

0 komentar:

Poskan Komentar